
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
12 Agustus, 2008
Tolok Ukur efektivitas Pengelolaan SDM
5 Agustus, 2008
Secara umum fungsi dan peran SDM dalam organisasi dimulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti pengadaan, pemeliharaan dan ada saatnya untuk melakukan aktivitas evaluasi. Semua itu berujung pada tindakan-tindakan yang kurang menyenangkan seperti evaluasi kinerja dan pemutusan hubungan karyawan.
Memang tiap-tiap organisasi mempunyai tolok ukur sendiri-sendiri dalam mengelola SDM-nya, dilandasi atas tingkat urgensi dari kebutuhan organisasi tersebut. Ada organisasi yang meletakkan perencanaan SDM sebagai aspek yang paling penting dalam pengelolaan SDM. Ada juga organisasi yang meletakkan fungsi pemeliharaan sebagai aspek terpenting. Namun, ada juga organisasi yang melihat fungsi terakhir dari pengelolaan SDM, yaitu evaluasi sebagai yang terpenting, terutama jika organisasi tersebut dalam masa-masa kejenuhan.

LOWONGAN KERJA
15 Juli, 2008
Formulir aplikasi dapat didownload di sini
Banner di atas dapat didownload di sini
Informasi lowongan kerja ini juga bisa dilihat di website :
http://safety4abipraya.wordpress.com/
http://muslimabipraya.wordpress.com/
http://www.brantas-abipraya.com/
Iklan lowongan ini juga dimuat di harian KOMPAS, Sabtu, 19 Juli 2008, halaman 51.
Informasi rinci mengenai pelaksanaan test tulis, wawancara dan psikotes (waktu dan tempat) akan disampaikan via website ini juga.

Dam Ponre-Ponre, Dam Dengan Type Concrete Faced Rockfill Dam (CFRD)
11 Juli, 2008
Dam Ponre-Ponre merupakan dam ke-2 di Indonesia yang menggunakan konstruksi CFRD setelah Dam PLTA Cirata.
Data proyek dam Ponre-Ponre :
Nama Proyek : Ponre-Ponre Dam
Lokasi : Kec. Libureng & Kahu, Bone, Sulawesi Selatan
Type dam : Concrete Faced Rockfill Dam (CFRD)
Bengunan pelengkap : Spillway, Diversion Tunnel, Intake dan Outlet Tunnel, Steel Bridge
Tinggi : 55 m
Kapasitas reservoir : 41 juta m3
Pemilik Proyek : PPSA Jeneberang Departemen PU
Konsultan : Nippon Koei, Ltd
Kontraktor : HAZAMA - BRANTAS ABIPRAYA JO
Sumber Dana : JBIC
Bangian utama dam beserta bangunan-bangunan pelengkapnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Pekerjaan concrete di tubuh dam yang menjadi ciri khas konstruksi CFRD dapat dibagi menjadi 4 bagian (dimulai dari bagian yang terletak paling bawah) :
1. Concrete Plinth
Pada prinsipnya, plinth berfungsi sebagai pondasi utama sebuah bendungan type CFRD. Rumus untuk menentukan tebal plinth (T) adalah :
T (meter) = 0,3 + 0,003 H
H = tinggi genangan air waduk
Typical design dari plinth dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Type plinth yang digunakan bergantung kepada besarnya garis design, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

Selain rebar, jenis material yang “tertanam” di dalam concrete plinth cukup banyak macamnya, diantaranya adalah : PVC waterstop, Copper waterstop (waterstop tembaga), Neoprene Rod Ø 12 mm, Neoprene Filler, Felt Strip, Soft Timber 12 mm, Mastic Filler dan PVC Hypalon Sheet.
(bersambung)

Proses Pelaksanaan Pembangunan Gedung
21 Juni, 2008Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perencanaan suatu gedung. Tahapan pelaksanaan proyek ini harus disusun sedemikian rupa mulai dari pengerjaan awal hingga finishing (jika pengerjaan proyek hingga finishing). Semuanya ini disusun didalam Time Schedule. Tahapan-tahapan dan berapa lama pengerjaan proyek tersebut disusun dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.
Pekerjaan Pembersihan
Pengerjaan dimulai dari pembersihan lapangan dan pemerataan permuakaan tanah seperti yang telah direncanakan. Bahkan kalau perlu dilakukan pengerukan dan pengurugan tanah, setelah itu tanah dipadatkan.
Pekerjaan Pondasi
Setelah tanah bersih dan rata, dilanjutkan kemudian dengan pemancangan tiang pondasi, yang biasa disebut dengan Tiang Pancang. Sebelum pemancangan ini, perlu ditentukan dahulu titik-titik pondasi tersebut. Setelah titik-titik pondasi ditentukan, barulah proses pemancangan dapat dilakukan. Proses pemancangan ini harus sangat diperhatikan, karena saat proses pemancangan, dapat terjadi berbagai kesalahan. Operator mesin pancang diharapkan terus mengontrol posisi tiang pancang. Dalamnya pondasi tiang pancang yang tertanam di dalam tanah tergantung dari jenis dan kondisi tanah tersebut, karena pondasi tiang pancang harus berdiri di atas tanah yang keras. Jika proyek berada di daerah tanah rawa, pondasi tiang pancang tertanam lebih dalam. Sebagai contoh jika proyek berada di daerah Jakarta Utara, yang merupakan tanah rawa, pondasi tiang pancang akan tertanam sangat dalam. Lain halnya jika berada di sekitar Jakarta Selatan, yang mempunyai tanah lebih keras, pondasi tiang pancang tertanam tidak terlalu dalam.


