Arsip untuk ‘Teknologi konstruksi’ Kategori

h1

Dam Ponre-Ponre, Dam Dengan Type Concrete Faced Rockfill Dam (CFRD)

11 Juli, 2008

Dam Ponre-Ponre merupakan dam ke-2 di Indonesia yang menggunakan konstruksi CFRD setelah Dam PLTA Cirata.

Data proyek dam Ponre-Ponre :

Nama Proyek               :     Ponre-Ponre Dam

Lokasi                          :     Kec. Libureng & Kahu, Bone, Sulawesi Selatan

Type dam                     :     Concrete Faced Rockfill Dam (CFRD)

Bengunan pelengkap  :       Spillway, Diversion Tunnel, Intake dan Outlet Tunnel, Steel Bridge

Tinggi                           :     55 m

Kapasitas reservoir       :     41 juta m3

Pemilik Proyek             :     PPSA Jeneberang Departemen PU

Konsultan                     :     Nippon Koei, Ltd

Kontraktor                   :     HAZAMA – BRANTAS ABIPRAYA JO

Sumber Dana               :     JBIC

Bangian utama dam beserta bangunan-bangunan pelengkapnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Pekerjaan concrete di tubuh dam yang menjadi ciri khas konstruksi CFRD dapat dibagi menjadi 4 bagian (dimulai dari bagian yang terletak paling bawah) :

1.   Concrete Plinth

      Pada prinsipnya, plinth berfungsi sebagai pondasi utama sebuah bendungan type CFRD. Rumus untuk menentukan tebal plinth (T) adalah :

      T (meter) = 0,3 + 0,003 H

      H   =  tinggi genangan air waduk

      Typical design dari plinth dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Type plinth yang digunakan bergantung kepada besarnya garis design, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

Selain  rebar, jenis material yang “tertanam” di dalam concrete plinth cukup banyak macamnya, diantaranya adalah : PVC waterstop, Copper waterstop (waterstop tembaga), Neoprene Rod Ø 12 mm, Neoprene Filler, Felt Strip, Soft Timber 12 mm,  Mastic Filler dan PVC Hypalon Sheet.

(bersambung)

h1

Proses Pelaksanaan Pembangunan Gedung

21 Juni, 2008

Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perencanaan suatu gedung. Tahapan pelaksanaan proyek ini harus disusun sedemikian rupa mulai dari pengerjaan awal hingga finishing (jika pengerjaan proyek hingga finishing). Semuanya ini disusun didalam Time Schedule. Tahapan-tahapan dan berapa lama pengerjaan proyek tersebut disusun dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.

Pekerjaan Pembersihan
Pengerjaan dimulai dari pembersihan lapangan dan pemerataan permuakaan tanah seperti yang telah direncanakan. Bahkan kalau perlu dilakukan pengerukan dan pengurugan tanah, setelah itu tanah dipadatkan.

Pekerjaan Pondasi
Setelah tanah bersih dan rata, dilanjutkan kemudian dengan pemancangan tiang pondasi, yang biasa disebut dengan Tiang Pancang. Sebelum pemancangan ini, perlu ditentukan dahulu titik-titik pondasi tersebut. Setelah titik-titik pondasi ditentukan, barulah proses pemancangan dapat dilakukan. Proses pemancangan ini harus sangat diperhatikan, karena saat proses pemancangan, dapat terjadi berbagai kesalahan. Operator mesin pancang diharapkan terus mengontrol posisi tiang pancang. Dalamnya pondasi tiang pancang yang tertanam di dalam tanah tergantung dari jenis dan kondisi tanah tersebut, karena pondasi tiang pancang harus berdiri di atas tanah yang keras. Jika proyek berada di daerah tanah rawa, pondasi tiang pancang tertanam lebih dalam. Sebagai contoh jika proyek berada di daerah Jakarta Utara, yang merupakan tanah rawa, pondasi tiang pancang akan tertanam sangat dalam. Lain halnya jika berada di sekitar Jakarta Selatan, yang mempunyai tanah lebih keras, pondasi tiang pancang tertanam tidak terlalu dalam.

Read the rest of this entry ?

h1

Mengenal Cable-Stayed Bridge

19 Juni, 2008

Kutipan berita dari situs Departemen Pekerjaan Umum :

http://www.pu.go.id/index.asp?link=/humas/news2003/ppw130608gt.htm

PEMBANGUNAN SURAMADU CAPAI 82 PERSEN

Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) saat ini telah mencapai progres penyelesaian 82%. Saat ini pembangunan jembatan memasuki tahapan penting yakni pemasangan kabel baja pada bentang utama jembatan. “Dari segi teknis yang paling kritis adalah pemasangan kabel ini.” kata Direktur Pelaksanaan Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Ditjen Bina Marga Departemen PU Hediyanto, di Jakarta, Jumat (13/6).

Pengerjaan bentang utama jembatan sepanjang 818 meter di lakukan oleh kontraktor dari China, sementara untuk jembatan penghubung dilakukan oleh kontraktor Indonesia. Namun untuk mempercepat penyelesaian pembangunan jembatan penghubung, pengerjaannya juga dibantu oleh kontraktor China. Panjang jembatan ini adalah 5,4 Km dan ditargetkan dapat selesai pada April 2009. Hadirnya Jembatan Suramadu selain memberikan efisiensi biaya angkut dan waktu tempuh kendaraan juga dapat menjadi landmark dan menjadi daerah tujuan wisata.

Untuk memperindah Jembatan Suramadu pada malam hari, menurut Hediyanto pihaknya telah mengusulkan dilakukan pemasangan lampu-lampu sehingga akan menambah sisi artistik jembatan yang dibangun dengan biaya yang cukup mahal tersebut. Selain sisi artistik, pihaknya juga sudah mengusulkan kepada Bappenas pemasangan alat monitoring dan pembuatan museum. Alat monitoring akan digunakan untuk memantau kondisi jembatan dan mengetahui lebih awal bila terjadi kerusakan. Sementara museum akan digunakan sebagai dokumentasi perjalanan pembangunan Jembatan Suramadu. (gt)

 

Video animasi Jembatan Suramadu : 

Video pembangunan cable stayed bridge di Incheon, Korea Selatan :

Apa dan bagaimana jembatan type CABLE-STAYED ini dibangun ?

Silahkan download 2 materi PowerPoint ini (Read Only) :  Download, Download

h1

Metode Galian Fondasi dan Terowongan Untuk Pekerjaan Jalan (1)

8 Juni, 2008

Pada pekerjaan jalan mungkin saja ada pekerjaan galian tanah untuk fondasi bangunan atau bahkan terowongan. Disini diuraikan secara singkat saja.

1. Galian Fondasi

     Yang dimaksud dengan pekerjaan tanah disini adalah pekerjaan galian tanah untuk keperluan bangunan dibawah tanah / sub structure. Dimana bekas galian yang tidak diperlukan lagi oleh bangunan, akan ditimbun kembali, sesudah itu stabilitasnya tidak terganggu lagi.

     Galian disini sifat sementara, yaitu setelah struktur fondasi selesai dikerjakan , maka galian tanah akan ditimbun kembali . Oleh karena itu, tergantung kondisi lapangan yang ada, galian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misal lahan yang ada cukup luas, maka galian , akan dilakukan dengan slope sesuai dengan lereng alamnya agar tidak terjadi keruntuhan dengan tanpa perkuatan. Tetapi bila lahannya sangat terbatas, biasanya galian dibuat tegak dengan menggunakan perkuatan sementara, yang nantinya setelah struktur  fondasi selesai, perkuatan tersebut dibongkar kembali .

     Kemudian setelah itu, sisa galian yang ada ditimbun kembali dan dipadatkan, lihat gambar 1

2. Galian Terowongan

     Galian disini sifatnya juga sementara, sebelum lining terowongan dibuat. Volume galian terowongan selalu terjadi waste , karena tidak mungkin lobang yang diperlukan untuk struktur terowongan dapat dibuat persis. Jumlah waste yang terjadi, sangat tergantung dari jenis tanah yang ada. Makin keras tanah yang ada , maka wastenya akan lebih kecil, dibanding bila tanahnya lunak. Pengalaman ini diperlukan untuk menghitung jumlah volume galian yang diperlukan pada proses cost estimate.

     Untuk mengembalikan stabilitas tanah, maka setelah struktur terowongan selesai dibangun, sisa-sisa lobang yang ada harus segra ditutup kembali. Bila lining beton menggunakan beton maka sisa lobang yang tidak diperlukan oleh struktur juga harus diisi beton, bahkan terkadang juga diperlukan grouting untuk betul-betul dapat mengisi sisa lobang yang masih ada. Pengalaman ini juga penting untuk proses cost estimate. Lihat gambar 2

 (bersambung)

h1

Metode Quarrying

8 Juni, 2008

Quarrying merupakan merupakan kegiatan untuk memperoleh material batu dari suatu sumber material batu (biasanya berupa gunung/bukit yang mengandung batu di bawah permukaannya). Istilah lainnya adalah penambangan batu, yang hasilnya dipakai untuk timbunan maupun keperluan lainnya.

Macam-macam metode quarrying dapat dilihat pada gambar di bawah :